Anambas Daerah Head Line

DPD LSM Forkorindo, Laporkan Dugaan Penyimpangan Dana Publikasi ke Kejati Kepri

Parlin. S, Ketua DPD Kepri, LSM Forkorindo.

Anambas,gebraknusantara.co.id

Dugaan penyimpangan Dana Publikasi tahun 2017, di Bagian Humas Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Kepulauan Anambas, akhirnya dilaporkan oleh Parlin. S, Ketua DPD Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Provinsi Kepulauan Riau (Kepr)i, ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kepri, hari Senin (03/11/2018) kemarin.

Surat laporan bernomor 07.XII.2018/Lsm DPD Forkorindo, diterima langsung oleh Praptini, salah seorang petugas di kantor Kejati Kepri. Sesuai pemberitaan di media ini sebelumnya, bahwa Parlin. S mencium aroma tak sedap di Bagian Humas Setda Kabupaten Anambas ini. Hal tersebut terkait kerja sama dengan sejumlah media yang telah terjalin.

Kecurigaan lelaki berkumis ini, berawal dari kebijakan yang dianggapnya ngelantur dalam menjalin kerja sama tersebut. Menurutnya, Roby yang menjabat sebagai Kabag Humas Setda Kabupten Kepulauan Anambas, dan sekaligus sebagai Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) saat itu, telah memilah-memilah media yang diterima untuk bekerja sama.

Parlin juga menjelaskan, bahwa jumlah media yang resmi diterima, hanya 17 media. Padahal,  anggaran Pulibkasi yang menggunakan dana APBD saat itu, sebesar 2.8 miliar rupiah pertahun. Tentu saja anggaran tersebut dianggapnya terlalu besar.

“Kecurigaan saya atas dugaan penyimpangan dana Publikasi di bagian Humas Setda Kabupaten Anambas itu, sudah saya laporkan ke Kejati Kepri. Saya memang nggak main-main. Kenapa cuma 17 media yang diterima. Sementara, masih banyak media lainnya yang ingin menjalin kerja sama. Jadi saya menilai, bahwa di dalam proses kerja sama itu, telah terjadi persekongkolan jahat bersama belasan media yang diterimanya, untuk menghabiskan dana Publikasi tersbut, “beber Parlin.

Bukti laporan, yang ditandatangani petugas Kejati Kepri.

Ditambahkannya. Parahnya lagi, ketika saya konfirmasi pak Roby lewat ponsel nya, justru beliau mengaku, kalau media yang diterimanya, melihat media dan orangnya. Bukan cuma itu. Lanjutnya. Pembayaran terhadap 17 media itupun bervariasi. Mulai dari angka tiga juta rupiah sekali terbit, sampai ada yang dibandrol tujuh juta rupiah sekali terbit. Lalu dibawa kemana sisa dana Publikasi itu, “katanya penasaran.

Disisi lain, media ini coba melakukan konfirmasi kepada Roby melalui layanan sms ke ponsel nya (05/12/2018). Guna menanyakan dugaan penyimpangan dana Publikasi itu oleh ketua LSM Forkorindo. Namun sayang, Roby terkesan enggan menjawab.

Setelah laporan LSM itu sampai ke Kejaksaan, sangat diharapkan tindaklanjutnya. Takutnya, jika laporan itu terlalu lama disimpan, bisa keburu masuk angin. (Richard).