Head Line Pendidikan

Penyu, Makhluk Laut yang Terancam Punah?

Ditulis Oleh : Roki Juanda Putra
NIM : 180254241021
Jurusan Ilmu Kelautan
Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan
Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH)

Di Indonesia pemanfaatan penyu, khususnya penyu sisik  termasuk tinggi. Penyu sisik dimanfaatkan sebagai sumber perhiasan dan telurnya sebagai sumber protein tinggi oleh sebagian masyarakat Indonesia. Warna dan gambaran khas yang bagus pada sisik-sisik penyu ini disukai oleh para konsumen. Seekor penyu sisik yang telah dewasa penuh dapat menghasilkan 4 kg kulit sisik yang terdiri dari 13 lembar sisik dan dapat menghasilkan 200 butir telur dalam sekali bertelur.

Perdagangan penyu di Indonesia terutama Bali telah mendapat perhatian dunia internasional dalam lima belas tahun terakhir ini. Tahun 1990-an, beberapa lembaga internasional seperti Greenpeace mempublikasikan bahwa telah terjadi perdagangan dan pembantaian ribuan penyu per tahun di Bali. Isu boikot pariwisata terhadap Bali pun mencuat sebagai respon dari kepedulian masyarakat internasional terhadap nasib malang penyu-penyu yang bebas diperdagangkan di Bali. Apalagi pemotongan atau lebih tepatnya disebut pembantaian penyu tersebut dipandang sangat kejam dan tidak “manusiawi”.

Isu boikot pariwisata Bali semakin mereda seiring dengan berjalannya waktu dan munculnya isu yang mengatakan bahwa perdagangan penyu di Bali telah menurun. Namun investigasi ProFauna Indonesia di tahun 1999 membuktikan bahwa perdagangan penyu di Bali masih berlangsung. ProFauna Indonesia mencatat ada sekitar 9000 ekor penyu yang diperdagangkan hanya dalam kurun waktu 4 bulan, yaitu Mei hingga Agustus 2001.

Semua jenis penyu laut di Indonesia telah dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomer 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Berdasarkan ketentuan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna), semua jenis penyu laut telah dimasukan dalam appendix I yang artinya perdagangan internasional penyu untuk tujuan komersil adalah dilarang. Indonesia telah merativikasi perjanjian CITES sejak tahun 1978, ini berarti Indonesia terikat terhadap ketentuan CITES ini.

Penyu dengan nama latin Chelonioidea

Berbagai usaha telah dilakukan untuk mencegah punahnya penyu di alam. Salah satu bentuk usaha tersebut adalah dengan azas kelestarian alam yang di kenal dengan penangkaran. Dalam usaha penangkaran penyu dilakukan dengan penetasan secara semi alami serta pelepasan tukik (anak Penyu) ke lautan.

Penyu adalah reptilia yang bersifat aquatik, sebagian besar dari siklus hidupnya berada dalam air. Penyu berada di daratan sewaktu baru menetas dan akan bertelur. Penyu sisik adalah pemakan segala (omnivora) dan sangat agresif. Pada pemulaan hidupnya ia makan lamun (sea grass), selanjutnya menjelang dewasa akan memakan alga, kerang, ikan, ubur-ubur dan berbagai hewan lainnya. Pengamatan di luar negeri menunjukan bahwa penyu sisik ini melahap pula kantong-kantong plastik yang mungkin dikiranya ubur-ubur hingga dapat menyebabkan kematiannya (Anugerah, N, 1993).

Bagian laut yang merupakan habitat dan tempat mencari makan bagi penyu sisik adalah daerah terumbu karang perairan litoral yang jernih di sekitar daerah pantai peneluran. Daerah ini juga menjadi tempat hidup berbagai jenis binatang avertebrata yang merupakan sumber makanan bagi penyu sisik (Marques, 1990).

Penyu sisik merupakan jenis penyu yang bersifat paling tropis dibandingkan dengan jenis penyu lainnya. Hal ini terlihat dari penyebarannya penyu tersebut yang sampai ke wilayah Atlantis dan Indo-Pasifik. Wilayah ini terletak antara 25° LU dan 35° LS. Di luar wilayah tersebut dicatat adanya penyu sisik tetapi tidak melakukan aktivitas bertelur. Wilayah yang dimaksud antara lain bagian utara bumi, Atlantik bagian barat dan timur, Pasifik bagian barat dan timur.

Pada hari-hari pertamanya di air, tukik ini belum bisa menyelam karena dalam tubuhnya masih banyak kuning telur yang belum seluruhnya tercerna hingga membuat berat jenisnya rendah, dan ia hanya bisa berenang mengembang di permukaan (Anugerah, N, 1993).

Penyu yang selamat hidup hingga dewasa, biasanya tidak menetap diperairan sekitar sarangnya. Ia dapat mengembara hingga ribuan mil dari tempat ia dilahirkan. Penyu dari Queensland (Australia) misalnya mengembara hingga ke perairan sekitar Papua, dan yang dari selatan Jawa sampai ke Australia.

           Semua jenis penyu laut di Indonesia telah dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomer 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Ini berarti segala bentuk perdagangan penyu baik dalam keadaan hidup maupun mati adalah dilarang, seperti yang telah dijelaskan dalam Undang Undang No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.  Pemanfaatan jenis satwa dilindungi hanya diperbolehkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan dan penyelamatan jenis satwa yang bersangkutan. Berdasarkan ketentuan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna), semua jenis penyu laut telah dimasukan dalam appendix I yang artinya perdagangan internasional penyu untuk tujuan komersil adalah dilarang. Indonesia telah merativikasi perjanjian CITES sejak tahun 1978, ini berarti Indonesia terikat terhadap ketentuan CITES ini.

Pada kenyataannya larangan tersebut tidak diberlakukan oleh Pemerintah daerah yang mempunyai wewenang untuk mengatur misalnya tentang pemungutan telur penyu. Tidak semua pemerintah daerah mempunyai perda untuk melestarikan penyu dengan mengatur pemungutan telur.

            Untuk menjaga penyu sisik perlu adanya konservasi. Usaha konservasi penyu sisik harus dilakukan secara terprogram dan konsisten. Kegiatan penangkaran (Head Starting) harus didukung dengan kebijakan pemerintah tentang pengurangan konsumsi daging dan telur serta penggunaan produk derivatif penyu.

Usaha konservasi yang terpadu juga harus memperhatikan kesejateraan masyarakat sekitar kawasan perlindungan. Dengan menetapkan kawasan konservasi tersebut menjadi daerah ekowisata terbatas diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan  yang akan berdampak juga pada peningkatkan kesejateraan masyarakat local.