Bintan Head Line

Tambang Pasir Illegal Semakin Menggurita Pihak Kepolisian Terkesan Bungkam

Salah satu lokasi tambang pasir diduga illegal menggunakan alat berat di desa Kawal Kecamatan Gunung Kijang.

Bintan, gebraknusantara.co.id

Praktek tambang pasir Illegal di Kabupaten Bintan, tampak mulai berkelebat lagi. Tak tanggung-tanggung, ratusan hektar lahan kosong yang sebelumnya banyak ditumbuhi berbagai jenis pepohonan, kini bakal digerus.

Bukan hanya itu, lubang besar bekas galian yang ditinggal begitu saja oleh penambang sebelumnya, tampak menganga dan siap menyemplungkan siapa saja yang melintas di kawasan itu. Selain itu, lubang-lubang tersebut juga telah menjadi istana bagi nyamuk Malaria yang siap merenggut nyawa warga yang bermukim tidak jauh dari lokasi tambang.

Ironisnya, komunitas penambang pasir illegal, yang sempat calling down beberapa waktu lalu, kini secara estafet mulai menancapkan benderanya, alias mulai menggali material pasir yang banyak terkandung di Pulau Bintan ini. Dan sebagian besar penambang liar itu, beroperasi di Kecamatan Gunung Kijang Kabupaten Bintan.

Herannya, pihak Kepolisian setempat seakan memandang sebelah mata. Atau memang ada setoran gendut yang mengenyangkan. Sehingga, aktivitas Illegal itu terkesan dibiarkan. Meskipun kondisi lingkungan di kawasan itu telah diluluhlantak kan oleh penambang sebelumnya. Jadi tak terbayangkan, bagaimana hancurnya Pulau bersejarah ini kedepan.

Kegiatan tambang pasir yang masih lancar beroperasi, justru berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang. Bukan hanya itu. Masih banyak penambang lainnya yang beroperasi di desa Kawal, Kecamatan Gunung Kijang. Kabupaten Bintan.

Di lokasi ini justru lebih banyak jumlahnya. Bahkan, tak sedikit yang menggunakan Alat Berat. Tapi, tetap saja pihak kepolisian setempat terkesan bungkam.  Dikonfirmasi melalui layanan WA ke Ponselnya, Jumat (23/08/2019), AKP, D. P. Gurning, Kapolsek Gunung Kijang, terkesan enggan menjawab.

Melihat mulai maraknya aktivitas Illegal yang cenderung merusak lingkungan,  akhirnya dikomentari Sholikin, ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerakan Berantas Korupsi (Gebrak) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Lelaki asal Jawa Tengah ini menilai, jika  kegiatan tambang pasir yang berada di Kecamatan Gunung Kijang itu tidak bisa ditertibkan, baiknya dibawa saja ke ranah hukum, “aktivitas itukan jelas-jelas tak berizin, bahkan lingkungan di kawasan itupun nerangsur rusak. Tapi koq dibiarkan. Jadi menurut saya, kalau pelakunya tidak bisa ditertibkan, dibawa saja persoalan ini ke ranah hukum. Negara inikan negara hukum. Kayaknya belum ada yang kebal hukum di negeri ini, “sebutnya di kantornya (22/08/2019).

Warga lainnya juga nyeletuk. Lelaki berambut ikal ini enggan menyebutkan namanya. Sebut saja Yusuf. Lelaki berkulit gelap ini mengaku, kalau dirinya sangat serius memperhatikan lingkungan. Dan diakuinya, kalau dirinya merasa sedih melihat kondisi lingkungan di lokasi tambang pasir illegal tersebut,

“Waahh . . . Kalau saya lihat kondisi lingkungan di kawasan tambang pasir itu, memang sangat menyedihkan. Tapi kenapa pemerintah setempat tidak menindak para penambang liar itu. Padahal, mereka itukan tidak ada mengantongi izin. Truuuss . . . . Kalau pun ada tindakan dari pihak penegak hukum, baiknya semua diperiksa. Artinya, material pasir yang digali dari kedua desa itu, jelas-jelas illegal alias dicuri. Jadi, pihak yang menerima atau yang membeli, juga harus ditindak. Karna, mereka ini termasuk Penadah, “sebutnya di salah satu warung kopi di Kijang Kota Kecamatan Bintan Timur beberapa waktu lalu.

Jadi saya berharap, sambung Yusuf. Agar hukum benar-benar ditegak kan. Jangan seperti Pameo yang mengatakan, Hukum selalu tajam ke bawah, “tutupnya. (Richard).

Add Comment

Click here to post a comment