Head Line Tanjungpinang

Pengoperasian Incenerator RSUD Kepri Ditenggarai Tidak Optimal

Foto : Gedung RSUD Raja Ahmad Tabib Provinsi Kepulauan Riau.

Tanjungpinang, gebraknusantara.co.id

Kondisi mesin pemusnah limbah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raja Ahmad Tabib Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), saat ini terkesan memprihatinkan. Sejumlah peralatan pembakar limbah (Incenerator), seakan tak berfungsi sesuai peruntukannya.

Hasil investigasi yang dilakukan (25/10/2019) lalu, lokasi pembakaran limbah yang terletak di bagian belakang rumah sakit itu, suasananya tampak hening. Tak satu unit pun mesin terdengar  beroperasi. Di lokasi yang sama, tampak sebuah peralatan mirip Tanki air berwarna hitam didalam sebuah bangunan. Benda yang satu ini ditenggarai mesin pembakar limbah bersuhu tinggi (Burner). Berfungsi untuk memusnahkan semua jenis limbah yang dihasilkan oleh rumah sakit.

Sayangnya, mesin pemusnah limbah ini tidak bisa beroperasi secara optimal. Pasalnya, alat pembakar yang terdapat di dalam Tanki Burner, hanya memilik satu sumbu pembakar. Padahal, seyogianya harus memakai tiga buah sumbu pembakar. Artinya, dua buah sumbu sebagai pembakar sampah, dan yang satunya lagi, berfungsi sebagai pembakar Asap. Agar asap yang keluar dari cerobong, sama sekali bersih.

Parahnya lagi, mesin pemusnah sampah yang bernilai miliran rupiah itu, tidak memiliki alat pengukur suhu panas. Membuat sistem bekerja para operator di lokasi itu hanya bisa  mengandalkan insting. Artinya, pada saat bekerja, mereka hanya menduga-duga suhu panas pada Tanki pembakar, untuk meleburkan semua limbah yang dimasuk kan ke dalam Burner.

Foto : Alat pemusnah segala jenis sampah (Burner), panasnya bisa mencapai ribuan derajat celsius.

Padahal,  suhu panas di dalam Burner harus mencapai antara 1200 sampai 1500 derajat Celcius. Agar semua sampah yang dimasukkan, bisa hancur lebur. Dan inilah salah satu pemicu beban bagi para pekerja di bagian persampahan ini. Jika peralatan itu tidak memiliki pengukur panas, bagaimana para pekerja bisa melaksanakan tugasnya secara maksimal.

Hal itu diakui seorang pria yang ditemui tidak jauh dari lokasi tersebut, “saya juga pernah dengar pak, kalau mesin pembakar itu tak ada alat pengatur suhu panasnya. Padahal, alat itu kan sangat diperlukan, “sebutnya.

Truuss . . . Katanya melanjutkan. Kayaknya harga mesin itu mahal ya. Tapi kenapa tak dirawat, “katanya heran.

Selain lelaki berusia empatpuluhan itu, seorang pria lainnya juga berceloteh. Sebut saja Dody. Pria yang kerap peduli terhadap lingkungan di daerah ini juga menilai, bahwa dampak lain yang bisa timbul lantaran bobroknya pengawasan dan pengoperasian mesin Incenerator itu, bisa menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan sekitar, “Loh . . Pengoperasian mesin pemusnah limbah rumah sakit tidak boleh sembarangan loh. Karna, dampaknya terhadap lingkungan sangat besar. Bahkan bisa menimbulkan radioaktif. Selain itu, lingkungan dan tumbuh-tumbuhan pun bisa hancur dibuatnya, ” ujarnya di bilangan Bintan Centre.

Menindaklanjuti persoalan diatas, coba dilakukan konfirmasi ke Direktur Rumah Sakit Raja Ahmad Tabib, melalui layanan WA ke ponselnya (29/10/2019). Namun, tidak ada jawaban. Dan esok harinya, media ini masih berupaya melakukan konfirmasi langsung, menemui direktur RSUD Raja Ahmad Tabib ke kantornya. Namun, setelah ditunggu setengah jam, pak direktur tak kunjung muncul. (richard).