Head Line Tanjungpinang

Proyek Pengaspalan Jalan Pelabuhan Tanjung Mocoh Terganjal Proses Pembebasan Lahan

Rombongan TP4D bersama tim lainnya sedang berada di lahan yang terpotong oleh proyek pengaspalan.

Tanjungpinang, gebraknusantara.co.id

Proyek pembangunan jalan menuju Pelabuhan Tanjung Moco Kelurahan Dompak Lama, Kecamatan Bukit Bestari Tanjungpinang, disebut-sebut masih diselimuti segudang masalah. Meski tampak berjalan mulus, tapi menyisakan permasalahan ganti-rugi lahan.

Seorang warga pemilik lahan bernama Siti Asma, merasa dirugikan lantaran lahannya terpotong oleh proyek tersebut. Pasalnya, hampir setengah lahannya dipenggal tanpa ada basa-basi dari penyelenggara proyek.

Ujung-ujungnya ibu berstatus janda itu, melalui orang yang diberi kuasa, menemui pelaksana proyek. Setelah melalui proses perundingan, akhirnya permasalahan itu sampai ke TP4D (Tim  Pengawal Pengaman Pembangunan Pemerintah Daerah) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Rabu (13/11/2019), rombongan TP4D Kepri bersama tim lainnya, kembali turun ke lokasi guna melakukan pengukuran ulang atas lahan tersebut. Keseriusan petugas TP4D dalam menjalankan tugasnya pun pantas diacungi jempol. Hantaman teriknya sinar matahari, tak menjadi hambatan. Proses pengukuran terus berlangsung. Setelah lebih satu jam, pengukuran pun selesai.

Setelah itu, pihak TP4D mengusulkan kepada semua yang hadir, agar hari Senin mendatang, dilakukan kembali pertemuan. Herannya, setelah tiga kali pertemuan digelar, tapi pihak PT. Kemayan Bintan yang mengibahkan lahan itu kepada Badan Pengusahaan Kawasan, tidak pernah muncul. Artinya, sipemberi hibah dan sipenerima hibah, tak pernah hadir setiap kali digelar pertemuan. Membuat semua pihak yang hadir terheran.

Saf Ardi, Ketua RT 004 / RW 002, sedang mendengarkan penjelasan dari pemilik lahan.

Di lokasi itu, media ini coba menemui seorang pria yang diberi kuasa oleh Siti Asma. Lelaki berusia empatpuluhan ini menyebutkan, “lahan kami ini sudah bersertifikat. Tapi, diluar sepengetahuan kami, lahan ini tiba-tiba dihibahkan oleh PT. Kemayan Bintan kepada Badan Pengusahaan Kawasan Tanjungpinang. Makanya kami laporkan. Dan sampai sekarang, pihak pemberi hibah dan Penerima hibah tidak pernah datang menghadiri pertemuan. Padahal, sudah tiga kali pertemuan digelar. Jadi, kami tidak akan berhenti menuntut hak kami, “beber Oyok, sapaan akrab di areal lahannya.

Proyek bernilai 27 miliar rupiah itu, diketahui menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Nasional (APBN) tahun 2019. Dan sampai saat ini, proses pengaspalan di lokasi itu masih berlangsung.

Den Yelta, kepala Badan Pengusahaan Kawasan Tanjungpinang, coba dikonfirmasi melalui layanan sms ke ponselnya (13/11/2019). Tapi, sampai berita ini diunggah, Den Yelta tak menjawab. Sedangkan pihak Kemayan Bintan, belum dapat dikonfirmasi.

Di tempat yang sama, Saf Ardi, ketua RT 004 / RW 002 mengaku, kalau dirinya tidak pernah dilibatkan dalam proses pembebasan lahan, ” saya memang tidak pernah dilibatkan dalam proses pembebasan lahan untuk kepentingan proyek pengaspalan jalan ini, “kata Ardi singkat.

Lahan milik Siti Asma yang terpotong oleh proyek pengaspalan.

Proses hibah yang dilakukan PT. Kemayan Bintan itu, cenderung sangat kental aroma persekongkolan. Diduga kuat, pemberian hibah itu tanpa didukung kelengkapan surat-surat kepemilikan yang sah. Diharapkan, agar TP4D serius menangani persoalan itu. (Richard).