Head Line Tanjungpinang

Lahan Siti Asma Terpotong Oleh Proyek Pengaspalan Tanjung Mocoh

Suasana pertemuan antara TP4D dengan pihak-pihak yang terlibat dalam permasalahan tersebut di kantor Kejati Kepri.

Tanjungpinang, gebraknusantara.co.id

Proyek pengaspalan ke Dermaga Tanjung Mocoh di kawasan Dompak Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), ternyata menyimpan segudang masalah. Proyek bernilai puluhan miliar rupiah itu, telah memotong sebidang lahan milik Siti Asma, tanpa melalui proses ganti rugi. Tentu saja pemilik lahan meradang.

Melalui Oyok. Lelaki yang diberi kuasa untuk menangani permasalahan itu, langsung menindaklanjutinya. Dan menurut pengakuannya, persoalan itu telah ditangani TP4D Provinsi Kepri bersama pihak Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (Kanwil BPN) Provinsi Kepri.

“Persoalan ini sebenarnya sudah ditangani oleh TP4D. Bahkan, sudah dua kali dilakukan sidang lapangan. Ketika sidang lapangan yang kedua, pihak BPN juga ikut. Dan langsung melakukan pengukuran ulang atas lahan tersebut. Tapi pihak Badan Kawasan selaku penerima hibah, tidak pernah hadir. Begitu juga pihak PT. Kemayan Bintan, selaku pemberi hibah kepada Badan Kawasan Tanjungpinang, tidak pernah datang, “kata Oyok.

“Jadi, sambungnya. Jika dalam minggu-minggu ini tidak ada juga perhatian pemerintah daerah atas persoalan ini, saya akan membuat aksi. Terus terang, itu lahan kami sudah bersertifikat. Jangan se-enaknya memotong lahan kami. Yang pasti, lahan kami itu diluar dari areal Surat Hak Guna Bangunan (HGB) yang disebut-sebut milik PT. Kemayan Bintan, “beber Oyok geram.

Peta lokasi hasil pengukuran ulang BPN bersama tim TP4D beberapa waktu lalu.

Proyek pembangunan dan pengaspalan jalan menuju Dermaga Tanjung Mocoh itu, panjangnya diperkirakan lebih kurang tiga kilometer. Meskipun hanya berkisar tiga kilo meter panjang, namun anggaran yang disedot, sangat fantastis. Sesuai yang tertera di papan proyek, bahwa nilainya sebesar 27 miliar rupiah lebih.

Lahan milik Siti Asma seluas dua hektar, telah bersertifikat. Dan berada diluar areal HGB milik PT. Kemayan Bintan. Namun, sejak proyek pengaspalan digesa, lahan milik wanita paruhbaya ini terpotong cukup luas, yaitu seluas : 21 x 136 m. Parahnya lagi, proses ganti rugi yang seyogianya berlaku, justru terkesan diabaikan.

Undangan resmi dari tim TP4D kepada semua unsur yang terlibat di dalam permasalahan lahan tersebut.

Dan media ini coba melakukan konfirmasi melalui layanan ponsel ke Anwar. Pria yang mengaku sebagai Konsultan di PT. Kemayan Bintan itu, hanya bisa berjanji, “oohh . . .  saya Konsultan nya pak. Jadi begini saja pak. Mohon izin nih. Kebetulan saya hari ini sedang ada kerja. Bagaimana kalau hari Senin saja kita ketemu, “sebut Anwar berjanji (0712/2019).

Jawaban dari lelaki yang mengaku Konsultan di perusahaan tersebut, sepertinya telah tertanam prinsip mengulur-ulur waktu. Jika memang kooperatf, tentu saja sangat memungkinkan untuk menjawab konfirmasi yang dilakukan. (Richard).