Head Line Tanjungpinang

Aroma Tak Sedap Dipusaran Semarak PPDB Kepri 2020

Salah Satu lembaran Sticker yang berbunyi, mengajak masyarakat untuk mendaftarkan sekolah anaknya, melalui layanan Online.  

Tanjungpinang, gebraknusantara.co.id

Semarak Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA/SMK 2020 di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), secara menyeluruh telah berlangsung. Dan PPDB tersebut menerapkan system Online. Bagi peserta didik yang mau masuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, diharuskan mengikuti ketentuan maupun kategori yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. Meski dirasa agak njlimet, lantaran menerapkan system’ Online, tapi para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya, tetap saja berupaya menerobos system tersebut.

Pendaftaran untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) SMA/SMK di Provinsi Kepulauan Riau telah dimulai sejak tanggal 29 Juni sampai 3 Juli 2020. Dengan rentang waktu 24 jam (Pendaftaran dimulai pukul 00:00 dan ditutup tanggal 3 Juli pukul 15:00 wib) di laman website : https://provinsikepri.siap-ppdb.com.

Namun, di dalam system penerimaan PPDB Kepri tahun 2020, sedikit terjadi perubahan dari tahun sebelumnya. Tahun ini, digunakan empat sistem. Seiring dengan terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 44 Tahun 2019 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Dalam Permendikbud yang baru, esensinya adalah PPDB System Zonasi (jarak tempuh) yang dibuktikan dengan Domisili/tempat tinggal siswa berdasarkan Kartu Keluarga (KK) hanya 50 persen kuota dari setiap sekolah. Prestasi 30 persen, afirmasi 15 persen, dan perpindahan orang tua 5 persen.

Hal ini juga diperkuat dengan Peraturan Gubernur Kepulauan Riau Nomor 26 Tahun 2020 Tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Sekolah Menengah Atas, Sekolah Kejuruan Dan Sekolah Luar Biasa Tanggal 18 Mei 2020.

Khusus untuk SMAN di Kota Tanjungpinang terdapat 7 (tujuh) sekolah yang masuk kedalam PPDB. Masing-masing sekolah menetapkan jumlah daya tampung peserta didik yang telah disahkan kedalam Peraturan Gubernur Kepri.

Sedangkan untuk SMAN 1, daya tampung 360 siswa. Terbagi dalam 10 Rombongan Belajar (Rombel). Dan setiap rombel ditetapkan sebanyak 36 siswa. Begitu juga dengan SMAN 2. Daya tampung 324 siswa. Terbagi dalam 9 rombel. Setiap rombel 36 siswa. Untuk kelompok bahasa menampung 36 siswa, dengan 1 rombel. Dan untuk SMAN 3, daya tampung 288 siswa. Terbagi dalam 8 rombel. Setiap rombel 36 siswa,

Dan untuk SMAN 4, daya tampung 360 siswa. Terbagi dalam 10 rombel. Setiap rombel sebanyak 36 siswa. Dan untuk SMAN 5, daya tampung 180 siswa. Terbagi dalam 5 rombel. Setiap rombel 36 siswa. Untuk SMAN 6, daya tampung 144 siswa. Terbagi dalam 4 rombel.  Setiap rombel 36 siswa. Dan  SMAN 7, daya tampung 144 siswa. Terbagi dalam 4 rombel.  Setiap rombel 36 siswa.

Dua hari setelah proses pendaftaran, para orang tua yang memasuk kan anak ke sekolah, mulai merasakan kepanikan. Pasalnya,  setelah dientri data siswa dilaman web, sesuai dengan sekolah pilihan, ternyata terjadi perubahan. Membuat raut wajah para orang tua maupun calon siswa berubah cemberut, lantaran namanya yang sempat muncul, justru berpindah ke nomor lain. Artinya, calon siswa itu tidak bakal bisa menuntut ilmu di sekolah pilihannya. Padahal, semua persyaratan telah dipenuhi.

Tak ayal, perubahan sikap pun mulai muncul disetiap wajah orang tua yang mau memasuk kan anak ke sekolah. Bahkan, tak sedikit berubah sikap. Sampai-sampai tidak selera makan.

Besarnya harapan orang tua agar anaknya bisa masuk ke sekolah pilihan, sangat nyata terlihat di tengah-tengah masyarakat. Saat ini, orang tua calon siswa lebih banyak menghabiskan waktunya di depan Computer atau mengoperasikan Android nya, hanya untuk memantau perkembangan pendaftaran anaknya.

Wandi, salah seorang warga yang akan memasukkan anaknya bersekolah di salah satu SMAN di Tanjungpinang, terdengar mengeluh lantaran system pendaftaran saat ini. Menurutnya, system saat ini sangat njlimet. Diakuinya, Saat mendaftar, pria berambut lurus ini menggunakan jalur zonasi. Sejak didaftar sebagai PPDB, tak lama kemudian muncul nomor dan nama anaknya di web. Tapi belakangan, nomor anaknya selalu berpindah ke nomor urut dibawahnya. Membuat dirinya semakin cemas,

“Saya memang cemas melihat pergeseran nomor dan nama anak saya itu. Terus terang, memang jadi pikiran saya bang. Bahkan, sering saya tak bisa makan, lantaran memikirkannya. Artinya, nomor urut anak saya di web, selalu bergeser urutannya. Bahkan tertinggal jauh meninggalkan sekolah pilihan pertama (Favorit), kedua, ketiga, keempat, kelima. Dan sekarang, setelah penutupan pendaftaran, anak saya diterima atau masuk disekolah pilihan ke enam kendati nomor dan namanya masih juga bergeser kebawah “ujarnya kecewa, sambil menunjukkan tanda bukti pengajuan pendaftaran (5/7/2020).

Ditambahkannya, “Jujur saya sangat kecewa dengan jalur zonasi ini bang. Saya juga merasa dirugikan. Bayangkan saja jarak rumah saya dengan lokasi pilihan pertama (sekolah favorit), hanya berjarak 1.001 meter (sesuai peta disistem pendaftaran). Dan aneh nya lagi, anak saya mendaftar dilokasi yang sama, dengan alamat rumah bersebelahan dengan pilihan sekolah yang sama dengan temannya. Tapi jarak temannya berkisar 999 meter. Kenapa anak bisa lebih jauh jaraknya padahal kalau iya pakai zonasi jarak udara, anak saya yang seharusnya lebih dekat dengan sekolahan yang sama-sama menjadi pilihan pertama. Jadi saya semakin bingung bang. Parahnya lagi, Anak saya ini mengancam saya bang. Dia tidak mau sekolah kalau bukan di sekolah pilihannya. Apalagi nilainya lumayan tinggi, “beber Wandi.

Masih menurut Wandi. “Anak saya dan temannya sekarang diterima dipilihan ke enam. Tapi jangan disebut nama sekolahnya ya bang. Dalam kesempatan ini, saya menghimbau kepada panitia PPDB 2020, agar berlaku secara adil, fair, terbuka, transparan  sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. Jangan bermain-main dengan peraturan yang sudah ada.

Sholikin, ketua LSM Gerakan Berantas Korupsi (Gebrak) Provinsi Kepulauan Riau.

Menindaklanjutinya, media ini coba menemui Sholikin, Ketua LSM Gerakan Berantas Korupsi (Gebrak) dan juga Ketua Serikat Pers Republik Indonesia (SPRI) Provinsi Kepulauan Riau di kantornya Senin (6/7). Lelaki yang dikenal getol menyoroti dan melaporkan setiap ada temuan terkait korupsi di Provinsi Kepri ini, akhirnya angkat bicara,

“Iya betul, saya dan tim telah mendapatkan beberapa dugaan kecurangan dalam penerimaan PPDB SMAN di Kota Tanjungpinang, Modus yang mereka lakukan bervariasi. Diantaranya, ada yang menggunakan surat domisili dadakan/kilat, ada yang menggunakan jasa atau anak “orang kuat” baik pejabat maupun pengusaha yang domosilinya jauh dari zonasi sekolah pilihan pertama. Bahkan, ada “dugaan keterlibatan orang dalam panitia.” dengan merubah alamat dan zonasi pendaftar calon siswa. Jadi dugaan kita saat ini penerimaan PPDB Kepri 2020 terutama untuk SMAN di Kota Tanjungpinang berlangsung tidak fair dan tidak transparan, “ucap Sholikin.

Ketua LSM Gebrak ini, meminta dan mengingatkan kepada panitia dan semua pihak yang terlibat dalam PPDB Kepri 2020. Agar melaksanakan tugas sesuai amanah yang telah diberikan dengan sebaik-baiknya. Dan mematuhi peraturan dan juknis yang telah ditetapkan menjelang pengumuman PPDB hari ini Senin (6/7).

Bila hal ini tetap dilakukan dirinya tidak akan segan-segan untuk melaporkannya kepada DPRD Provinsi Kepri, Gubernur Provinsi Kepri, Dewan Pengawas Pendidikan, Menteri Pendidikan, Menteri Dalam Negeri, Menteri PANRB, Presiden dan tidak menutupkan kemungkinan akan menempuh jalur hukum.

Disisi lain, media coba melakukan konfirmasi terhadap M. Dali, Kepala Dinas Pendidikan (Diknas) Provinsi Kepri melalui layanan SMS ke Ponselnya (06/07/2020). Namun sayang, sampai berita ini diunggah, orang nomor satu di Dinas Pendidikan itu, belum menjawab.  (Richard).