Suku Laut, Suku Asli Kepulauan Riau

Martin Agustina Sari, Mahasiswi Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang.

 

Tanjungpinang, gebraknusantara.co.id

Kepulauan Riau, atau biasa disebut Kepri, merupakan sebuah Provinsi yang sekitar 96% luas wilayahnya merupakan lautan. Hanya berkisar 4% luas daratan. Hampir ditemukan berbagai suku bangsa menetap di Kepulauan Riau. Seperti suku Jawa, suku Batak, suku Minang, suku Bugis dan masih banyak suku lain dari seluruh nusantara dapat ditemukan di Kepri. Meskipun didominasi oleh suku dari luar, Provinsi Kepri memiliki suku asli yang disebut suku Laut. Suku Laut merupakan sebutan untuk menunjukkan orang yang pada hakekatnya tempat dan lingkungan pemukimannya berada di laut. Namun, masyarakat Kepulauan Riau banyak yang tidak mengetahui keberadaan suku Laut. Penyebabnya, suku Laut hidup secara berpindah-pindah tempat antar pulau dan hampir seluruh hidupnya dihabiskan di atas sampan. Suku Laut mengandalkan kehidupannya dari laut. Hidup sederhana dan jauh dari perkembangan teknologi. Mereka memenuhi kebutuhannya dengan menjadi nelayan. Kegiatan sehari-harinya menangkap ikan dan berburu hasil laut. Hasil tangkapan mereka inilah yang nantinya akan ditukarkan dengan kebutuhan sehari-hari, ketika mereka menepi ke daratan. Suku Laut hidup menyebar hampir di seluruh Kepulauan Riau. Tidak ada aturan tertulis dikalangan suku Laut mengenai wilayah tangkapan ikan, walaupun mereka memiliki ‘etika’ menangkap ikan yang harus ditaati bersama. Aturan melaut ini bisa berbeda tergantung dengan wilayah tempat di mana mereka tinggal.

Bentuk rumah suku Laut yang banyak ditemukan di Kepulauan Riau. 

Jika diamati lebih lanjut, ragam bahasa yang digunakan suku Laut dianggap masih serumpun dengan bahasa Melayu. Suku Laut disebut sebagai ragam suku bangsa Melayu Tua. Secara umum, kebudayaan suku Laut berbeda dengan suku Melayu. Namun, masih tampak elemen-elemen ‘Melayu’ dalam kehidupan kesehariannya.

Sementara itu, perbedaan kultural yang paling kasat mata, terletak pada stuktur sosial (sistem kekerabatan dan relasi antargender) dan budaya materinya. Suku Laut hidup berkelompok dalam jumlah yang kecil sekitar lima sampai delapan keluarga inti. Kelompok yang masih dalam satu kerabat ini dipimpin seorang laki-laki yang ditunjuk melalui sebuah musyawarah.

Seiring berkembangnya zaman, lama kelamaan suku Laut mulai hidup di pinggir pantai di rumah-rumah yang terbuat dari kayu yang disediakan pemerintah. Sejak bermukim, orang laut hanya pergi melaut untuk mencari ikan pada musim tertentu. Peralihan dari kebiasaan ini, ikan hasil tangkapan suku Laut tidak lagi untuk konsumsi pribadi, tapi dijual kepada para tauke (juragan ikan) untuk ditimbang dan ditukar dengan uang.

Jumlah orang laut di Kepulauan Riau lumayan besar. Data tahun 1972 dari Jawatan Sosial Tanjungpinang, jumlah orang laut di Riau (dimekarkan menjadi Kepri), berjumlah 5205 orang. Jumlah suku terasing totalnya 21.711 orang. Rinciannya, Suku Sakai 4075 orang, Talang Mamak 6165 orang, Suku Orang Hutan 2938, Suku Bonai 1428 orang dan Suku Akik 1900 orang. Kini 40-an tahun berlalu, orang laut di Kepri masih banyak ditemukan. Ada yang sudah bermukim dan ada yang masih mengembara di laut. Banyak pemukiman orang laut yang dibangun pemerintah. Seperti di Pulau Lipan, Kelumu, Sungai Buluh, Tanjungkelit, Kelumu dan Tajur Biru di Kabupaten Lingga. Di Bintan juga ada di Air Kelubi. Sementara di Batam, orang laut dibuat pemukiman di Pulau Bertam.

Namun sayang, kondisi suku Laut di Kepulauan Riau saat ini nyaris tidak ditemukan data validnya, tidak diketahui berapa jumlah suku Laut dan dimana saja sebarannya di Kepri. Meski begitu, suku Laut tetap menjadi bagian dari keragaman suku dan budaya yang ada di Kepri. Harapannya, pemerintah dapat memperhatikan suku Laut ini agar tidak terasing oleh perkembangan zaman yang berkembang secara pesat.

Martin Agustina Sari,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Maritim Raja Ali Haji.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here