Layanan Kesehatan Puskesmas Batu 10 Mengecewakan

Megahnya bangunan Puskemas Batu Sepuluh di jalan Adi Sucipto Tanjungpinang. 

Tanjungpinang, gebraknusantara.co.id

Didampingi Istrinya, Rinto. S,  warga jalan Handjoyo Putro  Tanjungpinang yang telah tiga hari merasa meriang dan terbaring di rumah, belakangan harus pergi berobat ke Klinik Ibu Mas yang melayani peserta BPJS di Batu Sembilan Tanjungpinang.

Sesuai kebiasaan, ketika kedatangan pasien, perawat yang bertugas di Klinik Ibu Mas ini langsung memberi pelayanan yang optimal kepada setiap pasien yang datang. Sama halnya terhadap Rinto.

Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap lelaki yang berprofesi sebagai wartawan ini, pihak Klinik pun menyarankan agar Rinto berobat ke Puskesmas saja, “baiknya ibu bawa saja bapak berobat ke Puskesmas. Karena disana lebih lengkap peralatannya, “saran salah seorang perawat di Klinik itu, (22/07/2021).

Tak menunggu lama. Istri yang mendampingi Rinto pun langsung membawa suaminya yang sedang sakit itu ke Puskesmas terdekat. Persisnya, ke Puskesmas Batu Sepuluh Tanjungpinang.

Saat berada di Puskesmas tersebut, meski kondisi tubuh sedang meriang, mau tak mau Rinto bersama istrinya harus sabar ngantri. Kebetulan saat itu pasien sedang membludak. Setelah hampir satu jam menunggu, Rinto pun dipanggil.

Namun, layanan yang didapat tak sesuai yang diharapkan. Rinto yang kondisinya uring-uringan lantaran demam nya sedang tinggi, justru disuruh pulang oleh pihak Puskesmas. Alasannya, karena tidak sesuai dengan domisili. Mendengar ucapan itu, Rinto spontan kaget bagai mendengar petir disiang bolong.

Rinto menuturkan, “waktu itu saya didampingi istri, berobat ke Puskesmas Batu 10. Kondisi saya saat itu sedang demam tinggi. Memang sudah tiga hari saya demam. Tapi saya masih bertahan di rumah, sambil mengkonsumsi obat seadanya. Tapi saat itu, mau tak mau saya harus berobat. Tak mungkin saya bertahan terus di rumah. Dan sesuai arahan Klinik Ibu Mas, makanya saya berobat ke Puskesmas itu, “tutur Rinto.

Pada saat kami sampai di Puskesmas, lanjut Rinto. Kami memang ngantri. Setelah satu jam, kami pun dipanggil untuk dilayani. Tapi, hanya karena tidak sesuai dengan domisili saya, kami malah disuruh pulang. Tentu saja saya tidak terima. Padahal, saya tinggal di Perumahan Mahkota Alam Raya Kelurahan Batu Sembilan. Tapi kenapa saya dibilang tidak sesuai dengan domisili saya. Malahan saya disuruh berobat ke Puskesmas Batu Delapan atas, “tuturnya.

Masih menurut Rinto, “Perawat yang menerima kami mengatakan, karena masalah tempat tinggal. Berobatnya tak bisa di Puskesmas Batu 10. Tapi di Puskesmas Batu 8 Atas. Itu pun besok pagi, “kata Rinto menirukan ucapan petugas Puskesmas Batu 10.

Mendengar penjelasan perawat Puskesmas itu, Rinto merasa kecewa. Dirinya yang sedang sakit malah ditolak berobat. Bahkan diminta berpindah tempat pengobatan. Parahnya lagi, waktu berobatnya pun harus ke esokan hari.

Berselimutkan rasa kecewa, Rinto bersama istrinya pun pulang ke rumah. Meskipun tidak jadi berobat. Pria asal kota Medan ini mengatakan, “wajar saja kalau banyak warga meninggal dunia jika pelayanannya begini. Kalau orang sakit aja sudah ditolak, kemana lagi harus berobat, ” gumamnya kesal.

Disisi lain, coba dilakukan konfirmasi kepada Dr. Muhammad Al Giffari, Kepala Puskesmas Batu Sepuluh melalui layanan WA ke Ponselnya (23/07/2021). Terkait layanan yang mengecewakan itu. Dijelaskannya, “izin pak. Terkait pasien yg datang kemarin untuk permintaan pemeriksaan Rapid Antigen pak. Tim Satgas Covid-19 kami mengarahkan ke pasien Puskesmas Mekar Baru. Karena untuk melakukan Rapid Antigen sesuai tempat domisili (Kelurahan) dengan Puskesmas yang dituju. Saat kejadian ini, Petugas kami sudah menjelaskan dengan sopan dan baik pak. Ke depannya kami akan melakukan pelayanan lebih baik lagi, “janji Dr. Egi (sapaan akrab) kepala Puskesmas Batu Sepuluh Tanjungpinang, (23/07/2021). (Richard).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here