Proses Pemakaman Pasien Covid-19 Di Bintan Tanpa Alat Pelindung Diri

Proses pemakaman, tampak penggali kubur tanpa dilengkapi APD. 

Tanjungpinang, gebraknusantara.co.id

Tak terhitung, banyaknya gonjang-ganjing soal pasien meninggal dunia lantaran positif terinfeksi Covid-19. Bahkan, ada juga yang komplain terhadap pihak Rumah Sakit. Dan kondisi Seperi itu kerap viral di Media Sosial.

Belum lama ini, muncul pula persoalan terkait pasien berinisial Sab yang dinyatakan positif Covid-19 oleh pihak Rumahsakit Abdul Thabib (RAT) Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Pasien berinisial Sab, awalnya mengidap penyakit gagal ginjal. Bahkan, telah dideritanya hampir empat tahun. Oleh suaminya, akhirnya Rab dibawa ke Rumahsakit Ahmad Thabib  Tanjungpinang. Tapi, belakangan Rab dinyatakan positif Covid-19.

Sesuai prosedur di Rumahsakit, warga Kampung Keke RT 004/RW011 Kelurahan Kijang Kota Kecamatan Bintan Timur, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) inipun dirawat seperti pasien Covid lainnya. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Akhirnya, pasien Sab meninggal dunia tanggal 17/07/2021 malam. Keesokan harinya, langsung dikebumikan.

Lembaran surat hasil PCR dari Rumah Sakit RAT Tanjungpinang. 

Namun saat pemakaman, pasien tersebut hanya diantar oleh dua orang petugas Rumah Sakit ke lokasi pemakaman umum di kilometer 25 Bintan. Usai diantar, langsung ditinggal oleh petugas tersebut. Dan proses penguburannya pun diambil alih oleh penggali kubur bersama keluarga. Herannya, pihak yang melakukan penguburan , tanpa dilengkapi Alat Pelindung Diri (APD) sebagaimana prosedur pemakaman pasien Covid-19.

“Diantar oleh petugas Rumah Sakit namun hanya sebentar mereka langsung pergi. Sehingga yang mengubur hanya petugas penggali kubur dan keluarga tanpa APD, “sebut  Suami pasien bernama Ibrahim yang merasa ada kejanggalan pada proses pemakaman istrinya, Sabtu (31/07/2021).

Selain itu, Ibrahim juga mengungkapkan kejanggalan lainnya. Dirinya saat itu diharuskan membayar biaya pemakaman sebesar Rp.1 juta kepada pihak petugas penggali kubur. Padahal setahu dia biaya pemakaman pasien yang dinyatakan Covid-19 ditanggung oleh pemerintah setempat.  Namun saat diminta kwitansi jelasnya, petugas penggali kubur tidak dapat membuatkan kwitansi dengan berbagai alasan.

“Saya bayar Rp.1juta pak ke rumah petugas penggali kubur sebagaimana yang mereka minta. Namun saat saya minta kwitansinya katanya tidak ada, “ujar Ibrahim.

Ibrahim juga mengungkapkan kejanggalan-kejanggalan lainnya.  Yakni, terkait lama keluarnya surat keterangan terinfeksi Covid-19 dari Rumah Sakit.  dimana ia meminta kepada pihak Rumah Sakit, namun tak kunjung diberikan. Dengan alasan tidak bisa dan hanya akan diberi surat keterangan dari Dokter yang memeriksa.

“Saya beberapa kali minta surat itu namun tidak diberikan oleh Rumah Sakit dengan alasan tidak bisa dan hanya akan diberikan surat keterangan dari Dokter yang memeriksa atas nama Dokter Asep, “jelas Ibrahim.

Ditempat terpisah, dr. Asep Guntur Sapari. Mars, Kepala Bidang Pelayanan Medik di rumah sakit itu, coba dikonfirmasi melalui layanan WA ke ponsenya (31/07/2021). Dan Asep pun menjelaskan, “Selamat siang Bapak. Mhn maaf baru respon, sedang nyetir mobil.
1. Terkait pemakaian apd  untuk jenajah Covid memang tidak harus memakai Hazmart/apd level 3 Pak.
2. RS RAT tidak ada melakukan penarikan biaya apapun untuk pemulasaran jenajah alias gratis Pak. Demikian Pak. Terima kasih, “jawab Asep singkat. (Richard).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here