Jeritan Warga Dibalik Megahnya Proyek Pembangunan di Galangbatang Bintan

0
164
IMG 20210330 154341 compress33Aloysius Dhango, Ketua Departemen Hukum, HAM dan Advokasi di PKF Provinsi Kepri.

Bintan, gebraknusantara.co.id

Mega proyek yang dibangun oleh PT. Bintan Alumina Indonesia (PT. BAI) di Desa Galangbatang Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), sampai kini tampak terus berpacu.

Tak sedikit lahan yang selama ini terkesan terbiar, telah disulap oleh perusahaan raksasa itu menjadi kawasan yang dipenuhi dengan berbagai jenis bangunan infrastruktur. Bukan hanya itu. Cukup banyak lahan masyarakat telah dibebaskan. Meskipun terjadi riak-riak kecil saat melakukan pembebasan lahan, tapi masih bisa diatasi.

IMG 20210330 153914 compress17 scaledFoto : Sebagian lahan yang sempat diabadikan. 

Belakangan terdengar kabar terkait pembebasan lahan di kawasan tersebut. Masyarakat pemilik lahan di Kampung Masiran Kabupaten Bintan Provinsi Kepri merasa keberatan terhadap PT. BAI, lantaran lahannya digusur. Lahan seluas 16 hektar lebih yang berada di Kampung Masiran itu, digusur oleh PT. BAI, untuk kepentingan pembangunan.

Ujung-ujungnya, warga yang merasa lahan itu miliknya, tidak terima lahannya diobrak-abrik. Dan langsung beramai-ramai menghentikan aktivitas PT. BAI ketika akan mendozer lahan tersebut. Dan pihak perusahaan pun tidak terima dengan aksi yang digelar warga. Langsung membawa persoalan itu ke Polres Bintan.

IMG 20210330 154031 compress12Dua unit Alat Berat yang sempat didokumentasikan warga. 

Penjelasan Aloysius Dhango, salah seorang warga sekaligus menjabat sebagai ketua Departemen Hukum, HAM dan Advokasi di wadah Persatuan Keluarga Flores (PKF) Provinsi Kepri, bahwa penggusuran itu telah dimulai sejak beberapa waktu lalu. Dan sampai saat ini masih berlangsung,

“Yang saya tau, sampai sekarang belum ada pembebasan lahan terhadap pemilik lahan di Kampung Masiran itu. Sementara pihak perusahaan terus melakukan penggusuran. Makanya saya heran.  Kenapa pihak perusahaan tidak pernah mau bertemu dengan pihak yang dipercaya memegang Surat Kuasa (PKF-red). Bahkan,  pernah saya dengar, pihak perusahaan hanya mau bertemu dengan pemilik lahan. Sedangkan pemilik lahan telah sepenuhnya menyerahkan urusan ini kepada pemegang Surat Kuasa, “sebut Aloysius melalui layanan WA (30/03/2021).

Atas kejadian ini, lanjut Aloysius. Persatuan Keluarga Flores Provinsi Kepri meminta Kapolda Kepri melalui Kapolres Bintan untuk segera menghentikan penggusuran paksa oleh PT BAI di lahan Warga Masiran yang blm dibayar. Permintaan ini disampaikan mengingat kedua belah pihak sudah sepakat untuk tidak melakukan aktivitas di lokasi tersebut, “bebernya.

Masih menurut Aloysius. Sesuai rapat para pihak di Kantor Polsek Gunung Kijang, 01 Desember 2020 lalu, yang dihadiri oleh Wakapolres Bintan, Kapolsek, Danramil Bintan Timur dan aparat pemerintah Kecamatan Gunung Kijang. Kedua belah pihak sepakat untuk menghormati proses hukum yg sedang ditangani Reskrim Polres Bintan. Aksi penggusuran paksa tanah dan tanaman warga merupakan tindakan arogansi dan sangat provokatif. Warga saat ini merasa sangat merasa terzalimi. Dan mereka masih menahan diri. Dan juga berharap kehadiran pihak Kepolisian sebagai Pengayom dan Penegak Hukum yang adil dan bermartabat, “tutupnya.

Namun, penjelasan Aloysius tidak sama dengan jawaban yang disampaikan Santoni. Sore harinya, media ini coba melakukan konfirmasi ke Santoni, pimpinan PT. BAI melalui layanan WA ke Ponselnya (30/03/2021). Dan orang nomor satu di perusahaan itu mengatakan, “tidak benar. Tanah yang sudah kami miliki, pasti kami beli. Kalau bukan Haknya, kami tidak bisa beli, “jawab Santoni singkat melalui layanan WA nya. (Richard).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini