Mengenai Kepiting Bakau, Primadona Hutan Mangrove

0
94
Kepiting bakau
Tanjungpinang, gebraknusantara.co.idKepiting bakau (Scylla spp.) adalah sejenis kepiting yang hidup di ekosistem hutan bakau dan estuaria, anggota suku Portunidae. Kepiting yang mempunyai nilai ekonomis penting ini didapati di pantai-pantai pesisir.

Dalam bahasa Inggris ia dikenal sebagai Mangrove Crab, Mud Crab, dan juga Indo-Pacific Swamp Crab. Sesuai dengan namanya, maka kepiting bakau dapat ditemukan di Kawasan hutan bakau/mangrove yang memiliki kadar garam 10 sampai 35 ppt.

Kepiting bakau
Ilustrasi, Kepiting Dewasa yang siap untuk dipasarkan.

Hewan ini menyukai perairan yang berdasar lumpur dan lapisan air yang tidak terlalu dalam, serta terlindung.

Secara morfologi, ia dapat dikenali lewat seluruh tubuhnya yang tertutup oleh cangkang. Terdapat enam buah duri diantara sepasang mata, dan sembilan duri disamping kiri dan kanan mata. Ia juga memiliki sepasang capit. Pada kepiting jantan dewasa Cheliped (kaki yang bercapit) dapat mencapai ukuran dua kali panjang Karapas (cangkang keras). Mempunyai tiga pasang kaki untuk berjalan. Sepasang kaki untuk berenang, dengan bentuk pipih. Kepiting jantan mempunyai abdomen (bagian perut) yang berbentuk agak lancip menyerupai segi tiga sama kaki. Sedangkan pada kepiting betina dewasa agak membundar dan melebar.

Spesies ini mempunyai ukuran paling besar, dan memiliki pertumbuhan paling cepat dibandingkan spesies kepiting lainnya.

Bagaimana cara Kepiting berkembang biak ?
Kepiting adalah salah satu hewan yang berkembang biak dengan cara Ovipar atau bertelur. Di laut dekat pantai, Nelayan sering dapat menangkap kepiting yang sudah dewasa dan mengandung telur.

Sepertinya Kepiting menyukai laut sebagai tempat melakukan perkawinan. Namun Kepiting lebih banyak dijumpai berkembang biak di daerah tambak dan hutan bakau yang berair fan ridak terlalu dangkal (lebih dari 0,5 meter). Habitat hutan bakau adalah habitat yang paling disukai Kepiting untuk tumbuh dan berkembang. Hal ini karena hutan bakau memang banyak dihuni oleh organisme kecil yang menjadi sumber makanan Kepiting.

Mekanisme ganti kulit atau moulting pada Kepiting sangat sejalan dengan musim kawinnya. Menjelang perkawinan, akan terjadi proses moulting. Sehingga, kulit Kepiting betina menjadi lunak yang memudahkan bagi Kepiting jantan melakukan proses perkawinan, memasukkan sperma kedalam thelycum (alat kelamin) Kepiting betina.

Telur Kepiting betina dibuahi oleh sperma yang sudah disimpan ketika perkawinan terjadi. Telur yang sudah dibuahi tidak akan dilepaskan kedalam air, melainkan segera menempel pada rambut-rambut yang terdapat pada umbai-umbai di bagian bawah abdomen Kepiting.

Telur-telur itu kemudian akan dierami selama 20 hingga 23 hari sampai menetas. Seekor induk betina Kepiting yang beratnya 100 gram mampu menghasilkan telur sebanyak 1 sampai dengan 1,5 juta butir telur.

Semakin besar atau berat induk Kepiting, semakin banyak telur yang bisa dihasilkan. Telur yang baru difertilisasi atau dibuahi berwarna kuning–orange. Semakin berkembang embrio dalam telur, warna telur akan berubah menjadi semakin gelap, yaitu kelabu dan akhirnya menjadi coklat kehitaman ketika hampir menetas.

Induk Kepiting yang mengerami telur bisa tidak makan sama sekali. Induk itu selalu menggerakkan kaki-kaki renangnya dan sering tampak seperti berdiri tegak pada kaki dayungnya. Hal ini bertujuan agar telur-telurnya mendapat aliran air segar yang cukup oksigen. Saat tiba saatnya telur-telur itu menetas, induk Kepiting akan menggaruk-garukan kaki-kaki jalan dan kaki dayungnya terus menerus dengan cepat, untuk memudahkan pelepasan larva atau bayi Kepiting yang segera menyebar ke sekelilingnya.

Fungsi kaki-kaki jalan pada Kepiting sangat penting dalam hal ini. Jika jumlahnya tidak lengkap atau cacat, maka proses penetasan akan terganggu atau sulit dilakukan. Proses penetasan telur Kepiting biasanya akan berlangsung selama 3-5 jam.

Kepiting bakau memiliki fungsi ekologis. Khususnya dalam ekosistem mangrove. Kepiting memiliki peran penting dalam perputaran energi. Hal ini disebabkan oleh proses penguraian daun yang dimakan oleh kepiting berlangsung lebih cepat dibandingkan penguraian daun tanpa dimakan oleh kepiting.

Keberadaan kepiting di dalam ekosistem mangrove dapat mengurangi kadar racun tanah lahan mangrove yang dikenal sebagai anoksik (kekurangan oksigen). Kepiting akan membuat lubang-lubang di tanah sebagai tempat tinggalnya yang secara langsung mempermudah proses pertukaran udara di lahan mangrove.

Biota ini merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis penting dan sebagai sumber pendapatan nelayan serta devisa bagi negara.

Indonesia sebagai negara dengan lahan hutan bakau yang luas, mempunyai potensi kepiting bakau yang sangat menjanjikan. Tingginya permintaan pasar terhadap kepiting bakau khususnya pasar luar negeri, berakibat terhadap semakin tingginya tingkat eksploitasi biota tersebut di alam. Eksploitasi yang tidak bertangungjawab akan menyebabkan terancamnya kelestarian sumberdaya kepiting bakau.

Guna mengantisipasi hal tersebut, pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1/PERMEN-KP/2015 telah menetapkan kepiting bakau (Scylla spp) sebagai salah satu jenis ikan (krustasea) yang dilarang penangkapan maupun peredarannya dalam kondisi bertelur dan di bawah ukuran (layak tangkap).

Di Indonesia sendiri kepiting bakau termasuk komoditas sangat penting perikanan sejak tahun 1980 an. Oleh karena itu, mari kita dukung upaya Indonesia dalam meningkatkan eksistensi komoditi kepiting bakau di pasar dunia. Dengan cara menjaga keberlanjutan sumber daya kepiting bakau di hutan mangrove yang ada di negara kita ini.

Nama : Agus Prasetyo
NIM. : 2002010003
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI, FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN, PROGAM STUDI ILMU KELAUTAN.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini