Penginapan Bodong di Tengah Pemukiman, Satpol PP Wajib Bertindak

0
31

Tanjungpinang, gebraknusantara.co.id

Warga yang tinggal di kompleks perumahan Lorong Bunyu jalan Pramuka Tanjungpinang, yang dibangun oleh PT. Sinar Bahagia beberapa tahun lalu, tampak damai dan akur satu sama lainnya. Bahkan, ada yang tinggal di perumahan itu sejak awal tahun 2000an. Keseharian warga di perumahan itu, selalu disibukkan dengan kegiatan masing-masing, yang terdiri dari berbagai  profesi.

Tapi belakangan, muncul tanda tanya dari sejumlah warga yang tinggal di lorong tersebut. Pasalnya, ada penginapan ditengah-tengah pemukiman mereka. Yang membuat segudang tanya bagi mereka. Ujung-ujungnya, tanda tanya itupun sampai ke meja redaksi.

Akhirnya, media inipun langsung melakukan investigasi ke lokasi penginapan itu. Benar saja. Sebuah bangunan berlantai dua yang memang berada di komplek perumahan itu. Dan terpampang jelas papan nama bertuliskan Penginapan Tio San’s.

Tapi, sebelum menemui pengelola penginapan, coba ditemui ketua RT setempat (RT 003 / RW 004) di rumahnya. Guna menanyakan status  penginapan tersebut. Dan Ibu RT    pun mengakui, Kalau bangunan itu memang penginapan, “oohh . . Iya. Itu memang penginapan. Tapi yang menginap pun cuma orang dari pulau atau pejabat yang dari pulau. Itupun nginapnya cuma dua atau tiga hari. Kalau mengenai izinnya, saya pikir sudah ada. Karena pemiliknya pernah minta izin sama saya. Dan saya izinkan. Tapi cuma sebatas izin lisan, “papar Ibu RT menjawab media ini di rumahnya (02/02/2022).

Diwaktu yang sama, media inipun coba menyambangi penginapan itu. Sayangnya, yang ditemui hanya seorang wanita berusia limapuluhan. Wanita paruh baya ini menjelaskan, kalau pemilik penginapan saat itu sedang pergi ke Trikora,  “wah . . . Saya disini cuma seorang pekerja pak. Yang punya penginapan ini sedang ke Trikora. Tadi pagi berangkatnya. Kalau bapak mau menanyakan  izin penginapan ini, sama pemiliknya saja. Namanya, Tio Chongu alias Cece. Nanti kalau boss sudah pulang, Abang saya telpon “ujar wanita berbaju bunga-bunga biru itu di lobby room penginapan.

Disisi lain, pihak Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Atap (DPMPTSP) kota Tanjungpinang menyebutkan, kalau penginapan itu, sama sekali belum mengantongi izin, “dalam data manual di PTSP tidak ditemukan datanya. Data di OSS RBA versi baru pun tidak ditemukan datanya. Sedangkan Data di OSS versi lama tidak bisa buka. Karna adanya cuma di pusat dan belum dialihkan ke OSS versi baru, “kata Lukman, Kabid Perizinan di DPMPTSP kota Tanjungpinang, Jumat (04/02/2022) melalu layanan WA.

Tapi seingat saya, kata Lukman melanjutkan. Kita belum pernah memverifikasi izin penginapan di daerah batu 4 dan sekitarnya.  Termasuk yang di jalan Pramuka Tanjungpinang itu. Untuk mengatasinya, gak perlu repot-repot bang. Kalau memang ada indikasi yang meresahkan masyarakat, sampaikan saja ke Satpol-PP. Karena, Satpol-PP yang berwenang melakukan sidak kesana. Dan minta ditunjukkan izinnya, “saran Lukman.

Senin (07/02/2022), wanita paruh baya dengan sapaan Mama Landa, yang mengaku sebagai pekerja di Penginapan itu, coba dikonfirmasi ulang, guna menanyakan respon dari pemilik Penginapan. Namun, penjelasan yang didapat, “kebetulan pemilik Penginapan ini sedang pergi ke Anambas. Sebentar lah yaa. Saya telpon dulu beliau, “katanya melalui telepon selulernya.

Ditunggu sampai dua jam, tapi  Mama Landa tak kunjung memberi informasi. Bahkan, sampai berita ini diunggah, tak ada kejelasan.

Keberadaan penginapan itu awalnya diabaikan warga. Artinya, tidak ada perhatian khusus terhadapnya. Tapi semakin lama penginapan itu beroperasi, justru memicu tanda tanya. Malah ada yang menggerutu, “koq di lokasi perumahan, ada Penginapan yaa . . . , “gerutu seorang warga yang letak rumahnya tak jauh dari Penginapan itu.

Pada dasarnya, Kawasan itu telah ditetapkan sebagai kawasan pemukiman. Bukan sebagai kawasan Industri maupun kawasan penginapan. Jadi, peruntukannya semata-mata hanya untuk pemukiman.

Agar tidak terjadi beda persepsi, diharapkan pihak Satpol PP kota Tanjungpinang yang berperan sebagai penegak Perda, segera bertindak. Paling tidak menanyakan status  penginapan tersebut. Takutnya, diam-diam Warga Negara Asing (WNA) menginap di penginapan tersebut. Bukan hanya itu, penginapan tersebut juga ditenggarai tak memberi kontribusi kepada pemerintah kota. (Richard).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini