Tantangan Guru di Masa Pendidikan 4.0

0
11

Penulis : Damayanti E. Siallagan, dkk.

Tanjungpinang, gebraknusantara.co.id

Apa itu revolusi industri dan teknologi 4.0 ?

Globalisasi telah memasuki era baru yang bernama Revolusi Industri 4.0. Klaus (Shwab,2016) melalui The Fourth Industrial Revolution menyatakan, bahwa dunia telah mengalami empat tahapan revolusi, yaitu: 1). Revolusi Industri 1.0 terjadi pada abad ke – 18 melalui penemuan mesin uap. Sehingga, memungkinkan barang dapat diproduksi secara masal, 2). Revolusi Industri 2.0 terjadi pada abad ke 19-20 melalui penggunaan listrik yang membuat biaya produksi menjadi murah, 3). Revolusi Industri 3.0 terjadi pada sekitar tahun 1970-an melalui penggunaan komputerisasi, dan 4). Revolusi Industri 4.0 sendiri terjadi pada sekitar tahun 2010-an melalui rekayasa intelegensia dan internet of thing sebagai tulang punggung pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin.

Apa hubungan antara pendidikan dengan revolusi industri dan teknologi 4.0 ?

Zaman sekarang, teknologi sangat erat dengan kebutuhan manusia. Tidak hanya di kehidupan sehari-hari, teknologi sekarang sangat erat di dunia pendidikan. Ahli teori pendidikan sering menyebut Pendidikan Era Revolusi Industri 4.0 untuk menggambarkan berbagai cara mengintegritaskan teknologi cyber baik secara fisik maupun non fisik dalam pembelajaran.
Pendidikan Era Revolusi Industri 4.0 adalah fenomena yang merespons kebutuhan revolusi industri dengan penyesuaian kurikulum baru sesuai situasi saat ini. Kurikulum tersebut mampu membuka jendela dunia melalui genggaman contohnya memanfaatkan internet of things (IOT). Di sisi lain,  pengajar juga memperoleh lebih banyak referensi dan metode pengajaran dengan mengakses di berbagai sumber yang bisa dilakukan dengan menjelajahi internet. Akan tetapi, hal ini tidak luput dari tantangan bagi para pengajar untuk mengimplementasikannya. Dikutip dari Kompasiana (2019) setidaknya ada 4 kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh pengajar.

Pertama keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Merupakan kemampuan memahami suatu masalah, mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya. Sehingga dapat
dielaborasi dan memunculkan berbagai perspektif untuk menyelesaikan masalah. Pengajar diharapkan mampu meramu pembelajaran dan mengekspor kompetensi ini kepada peserta didik.

Kedua Keterampilan komunikasi dan kolaborasi. Keterampilan ini tidak luput dari kemampuan berbasis teknologi informasi, sehingga pengajar dapat menerapkan kolaborasi dalam proses pengajaran.

Ketiga, kemampuan berpikir kreatif dan inovatif, diharapkan memunculkan ide-ide baru yang dapat diterapkan pengajar dalam proses pembelajaran.  Sehingga, memacu siswa untuk beripikir kreatif dan inovatif. Misalnya dalam mengerjakan tugas dengan memanfaatkan teknologi dan informasi.

Keempat, literasi teknologi dan informasi. Pengajar diharapkan mampu memperoleh banyak referensi dalam pemanfaatan teknologi dan informasi,  guna menunjang proses belajar mengajar. Tidak dapat kita pungkiri, dengan semakin canggihnya teknologi yang sedang berkembang,  mau tidak mau membawa perubahan yang cukup signifikan di berbagai lintas sektor kehidupan.

Didalam dunia pendidikan yang awalnya menggunakan papan tulis, kini materi pembelajaran bisa disampaikan melalui alat teknologi canggih berupa proyektor. Akibat perubahan zaman yang kian berkembang, materi pembelajaran bagi pendidikan, sekarang bisa dicari melalui internet yang tersedia, bisa diakses dimana saja dan kapan saja. Tidak lagi berupa buku saja. Dengan menggunakan handphone, laptop, dan alat teknologi lainnya bisa kita pergunakan untuk menambah informasi.

Mampukah Pendidikan di Indonesia Beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0 ?

Pendidikan berasal dari bahasa Yunani, paidagogia yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Pedagogos adalah seorang nelayan atau bujang dalam zaman Yunani kuno yang pekerjaannya menjemput dan mengantar anak-anak ke dan dari sekolah. Istilah lain berasal dari kata paedos yang berarti membimbing atau memimpin. Dalam UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 3, dinyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar. Dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara” (Kristiawan dkk, 2017). Era Revolusi Industri 4.0 mendapatkan respons cepat di seluruh dunia.  Termasuk di Indonesia. Pendidikan 4.0 merupakan istilah umum yang digunakan oleh para ahli teori
pendidikan untuk menggambarkan berbagai cara untuk mengintegrasikan teknologi. Baik secara fisik maupun tidak ke dalam pembelajaran.

Di awal abad ini, pendidikan mulai berbenah diri untuk meningkatkan kualitas melalui Revolusi Industri 4.0. Telah banyak pelatihan yang membahas pendidikan 4.0. Namun, dalam implementasinya masih banyak guru yang kesulitan dalam mengoperasikan teknologi, guna menunjang pembelajaran. Seharusnya, pendidikan 4.0 ini memerlukan tenaga pendidikan yang mengupdate dirinya,  baik ekonomi, perkembangan pendidikan 4.0, maupun perkembangan teknologi.

Jika dunia industri Indonesia tengah dihadapkan pada tantangan era generasi keempat (4.0), maka berbeda halnya dengan pendidikan di Indonesia yang saat ini masih bergelut dengan ragam tantangan di era generasi ketiganya (3.0). Kondisi ini ditandai dengan tuntutan akan peningkatan kualitas pembelajaran dan meninggalkan pola kebijakan lama yang sekadar berkutat pada masalah pemerataan akses serta pemenuhan sarana prasarana pendidikan.
Perubahan pola kebijakan yang berorientasi pada kualitas pembelajaran ini selaras dengan tuntutan tentang apa dan bagaimana seharusnya pendidikan di Indonesia sebagai media penyiapan sumber daya manusia yang siap terlibat dalam tantangan Revolusi Industri 4.0 tersebut.

Sudah selayaknya hal itu dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, bukan dibiarkan berlalu dengan sendirinya. Pemerintah hendaknya memikirkan kembali secara serius bersama dengan para pegiat pendidikan di Indonesia mengenai berbagai hal terkait dengan budaya, sistem, dan sumber daya pendidikan dalam menyongsong gempuran Revolusi Industri 4.0.

Dampak Positif dan Negatif yang Didapatkan dari Perkembangan Teknologi 4.0.

Munculnya media massa, khususnya media elektronik sebagai sumber ilmu dan pusat Pendidikan memiliki dampak positif  yaitu guru. Dan guru bukanlah satu-satunya sumber ilmu pengetahuan. Sehingga, siswa dalam belajar tidak perlu terlalu terpaku terhadap Informasi yang diajarkan oleh guru. Tetapi juga bisa mengakses materi pelajaran langsung dari Internet. Oleh karena itu,  guru disini bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing siswa untuk mengarahkan dan memantau jalannya pendidikan, agar siswa tidak salah arah dalam menggunakan Media Informasi dan Komunikasi dalam pembelajaran. Munculnya metode-metode pembelajaran yang baru, yang memudahkan siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Di samping dampak positif yang ditimbulkan oleh perkembangan teknologi, juga akan muncul dampak negatif yang akan ditimbulkan dalam proses pendidikan. Yaitu dengan adanya peralatan yang seharusnya dapat memudahkan siswa dalam belajar. Seperti Laptop dengan jaringan internet, ini justru sering membuat siswa menjadi malas belajar, terkadang banyak diantara mereka yang menghabiskan waktunya untuk internetan yang hanya mendatangkan kesenangan semata. Sering terjadi pelanggaran asusila dilakukan oleh seorang pelajar terhadap pelajar lainnya. Seperti terjadinya tawuran antar pelajar, pemerkosaan siswi dan lain-lain.  Munculnya media massa khususnya media elektronik sebagai sumber ilmu dan pusat pengetahuan
yang disalahgunakan oleh pelajar.

Lanjutan Dampak Positif Yang Didapatkan dari Perkembangan Teknologi 4.0. 

Sekarang ini, manusia hidup di era revolusi industri 4.0. Era ini ditandai dengan besarnya peran teknologi dalam mengambil alih sebagian kegiatan perekonomian manusia. Tentunya, dampak revolusi industri sangat terasa nyata dalam kehidupan. Yang dulunya tenaga manusia sangat diandalkan untuk memproduksi sesuatu, sekarang telah digantikan dengan peran mesin dan teknologi canggih. Revolusi industri yang didominasi dengan komputerisasi, era digital, dan teknologi canggih ini mempunyai banyak dampak positif.

Namun, sebagai manusia cerdas, sebaiknya harus menyikapi era ini dengan bijak dan hati-hati. Di Indonesia, dampak revolusi industri ini sudah terlihat nyata. Salah satunya terlihat dari penggunaan uang elektronik untuk membayar tol dan transaksi pembayaran lainnya. Hal tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa tenaga manusia sudah terganti dengan teknologi. Revolusi industri 4.0 berfokus pada konsep digital untuk memenuhi kebutuhan perekonomian masyarakat dan industri. Nantinya, revolusi ini dapat memberikan perubahan industri yang akan semakin efisien. Dampak revolusi industri 4.0 terasa sangat signifikan terhadap kehidupan manusia. Berikut ini adalah dampak nyata dari revolusi industri yang perlu diketahui.

Tantangan Guru Dalam Proses Pembelajaran di Era 4.0. 

Sekarang ini banyak anak-anak yang mulai mengasingkan diri dari lingkungan sosial hanya karena adanya teknologi yang lebih canggih. Dan tugas utama seorang guru saat di sekolah ialah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, menilai, serta mengevaluasi peserta didiknya.

Karena itulah, profesi seorang guru selalu dekat dengan integritas, karakter, dan juga kepribadian. Selain hal-hal yang tertera diatas,guru bukan hanya bertugas untuk membagikan ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya. Tugas guru juga adalah mengajarkan peserta didiknya menanamkan nilai-nilai dasar karakter dan kepribadian yang baik pada kehidupan peserta didiknya. Sekarang bukan hanya sebuah kepintaran saja yang harus dimiliki,melainkan karakter yang baik adalah salah satu hal yang akan dipandangi oleh orang lain.

Solusi Pembelajaran di Era Revolusi Industri 4.0. 

Blended Learning merupakan solusi model pembelajaran yang bisa digunakan untuk menghadapi revolusi industri 4.0 dalam bidang pendidikan. Model pembelajaran blended learning pembelajaran tidak hanya terpaku pada sistem pembelajaran tatap muka. Tetapi bisa disandingkan dengan pembelajaran berbasis online dengan memanfaatkan perkembangan teknologi saat ini. Garis suksesnya pendidikan adalah guru. Namun di Era Revolusi Industri peran guru bergeser dengan hadirnya Google Asistence. Maka sangat diperlukan strategi pembelajaran yang menarik.  Sehingga, guru memiliki peran yang sebagaimana seorang guru. Adapun enam strategi pembelajaran yang dapat diterapkan di era Revolusi Industri 4.0 : 1). Membantu siswa dalam belajar. 2). Memberikan kepada siswa untuk berkembang dan berprestasi. 3). Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). 4). Melek akan teknologi, dan 5). Menjadi guru yang efektif. (***).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini